Demikian salah satu hasil penting yang disepakati dalam konferensi tentang bioteknologi di Negara berkembang yang berakhir Kamis sore pada tanggal 4 Maret 2010 di Guadalajara Meksiko.
Selain keputusan tersebut peserta pertemuan juga sepakat perlunya pendanaan yang berkelanjutan untuk mengembangkan bioteknologi di Negara berkembang dengan melalui kerjasama yang melibatkan sektor pemerintah, swasta, dan organisasi kemasyarakatan khususnya yang menaungi kepentingan petani dan pertanian dalam arti luas.
Sebagai salah satu pertemuan penting yang dilakukan FAO terkait dalam penerapan bio teknologi, delegasi Indonesia menilai pertemuan ini cukup berhasil dalam memetakan kembali peran penting bio teknologi dalam pembangunan pangan dan pertanian di negara berkembang dalam era globalisasi ini.
Delegasi Indonesia pada kesempatan ini menekankan perlunya Organisasi Internasional terkait dan negara donor yang sementara ini merupakan pemilik utama bio-tekonologi untuk mengupayakan apa yang disebut dengan “pro-poor bio technologies”. Sedangkan delegasi lain menambahkan agar isu keterlibatan, pengetahuan dan kontrol petani atas penerapan teknologi termaksud.
Sebagai informasi, konferensi teknis internasional Organisasi Pangan Dunia (FAO) tentang bioteknologi pertanian di negara-negara berkembang (FAO International Technical Conference on Agricultural Biotechnologies in Developing Countries 2010 /FAO ABDC 2010) telah berlangsung di Guadalajara, Mexico pada tanggal 1-4 Maret 2010. Pertemuan yang merupakan hasil kerjasama FAO, IFAD Pemerintah Mexico serta beberapa lembaga riset internasional ini dihadiri oleh sekitar 350 orang dari kalangan peneliti, LSM, Oranisasi Internasional / Regional, pemerintah, serta beberapa perwakilan setingkat Menteri dari 56 negara dan 26 organisasi yang bertindak sebagai pengamat. Delegasi RI terdiri dari Atase Pertanian Roma, Counsellor Multilateral KBRI Roma, 3 (tiga) orang peneliti dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan, serta unsur KBRI Mexico City.
Monday, March 8, 2010
Wednesday, March 3, 2010
MUNGKINKAH BIOTEKNOLOGI TANGGULANGI KELAPARAN DUNIA
Pertanyaan di atas merupakan salah satu pertanyaan utama yang mengemuka pada diskusi yang terjadi pada konferensi tentang Bioteknologi di negara berkembang yang berlangsung tanggal 1 – 4 Maret 2010 di Guadalajara Meksiko. Bertindak sebagai sponsor utama pada konferensi ini adalah fao, Ifad, CGIAR, dan pemerintah Meksiko. Isu lain yang juga menjadi pertanyaan utama adalah sejauh mana peranan bioteknologi bagi peningkatan kesejahteraan kaum miskin di pedesaaan Negara berkembang.
Konferensi yang mengambil thema: “The Technical Conference on Agricultural Technologies in Developing Countries: Option and Opportunities in Crops, Forestry, Livestock, Fisheries, and Agro-industry to face the Challenges of Food Security, and Climate Change” dihadiri oleh paling tidak sekitar 200 lebih peserta yang berasal dari 50 negara lebih dan utusan berbagai organisasi Internasional dan LSM dunia termasuk Indonesia yang diwakili oleh utusan institusi Kementrian Pertanian, Kementrian Kehutanan, dan unsur KBRI Roma dan KBRI Maksiko.
Dalam kata sambutannya Asisten Dirjen FAO, Mr. Madibo Traore, atas nama Dirjen FAO, mengatakan bahwa Bioteknologi modern dan juga yang konvensional merupakan alat yang sangat berpotensi bagi sektor pertanian dalam arti luas termasuk perikanan dan kehutanan. Dikatakan selanjutnya bahwa walaupun demikian bioteknologi menurut Mr. Traore belum memberikan pengaruh yang memadai terhadap kehidupan petani di Negara berkembang.
Konferensi yang membahas aspek Bioteknologi dalam arti luas ini diarahkan untuk tidak terfokus ke tema bahasan tentang GMO (Genetically Modified Organisms) yang selama ini memang merupakan thema yang masih bersifat kontroversial, tetapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat teknis dan menghindari aspek yang terkait dengan politik.
Dalam siaran persnya FAO juga mengemukakan beberapa inovasi yang dihasilkan oleh bioteknologi ini beberapa misalnya: padi hibrida Afrika, hasil susu sapi perah di Bangladesh, penggunaan metode berdasarkan DNA untuk mendeteksi penyakit udang di India.
Dari konferensi ini diharapkan akan dihasilkan beberapa rekomendasi dan masukan bagaimana peranan Bioteknologi di Negara berkembang dalam menanggulangi persoalan penyediaan pangan dan penanggulangan kemiskinan di tengan terjadinya perubahan lingkungan hidup dan kelaparan dunia.
Tuesday, January 19, 2010
HATI-HATI, HARGA BERAS DUNIA MERANGKAK NAIK
Dalam laporan yang dikeluarkan FAO yang termuat dalam “FAO Rice Price Update” untuk bulan Januari 2010 terungkap bahwa berdasarkan indeks harga beras fao, menunjukkan bahwa harga beras dunia secara rata-rata untuk tahun 2009 mengalami penurunan sekitar 14,2 % dibandingkan dengan kurun waktu tahun 2008. Penurunan tertinggi dialami beras jenis Indica kualitas rendah yang mencapai penurunan sekitar 31,8 % pada kurun waktu yang sama, sementara untuk jenis beras Japonica justru sedikit mengalami kenaikan di tahun 2009 ini sebesar 8,2 %.
Walaupun demikian, jika diperhatikan secara lebih rinci dengan mendasarkan kepada harga beras bulanan khususnya dengan membandingkan antara harga beras bulan Desember dibandingkan dengan bulan Nopember tahun 2009, menunjukkan bahwa harga beras dunia mengalami peningkatan bahkan beberapa jenis beras harganya juga lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada bulan Desember tahun 2008, sebagaimana ditunjukkan untuk semua jenis beras dari Thailand dan Vietnam. Hanya beras jenis US California Medium Grain dan Basmati Pakistan yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan harga pada bulan yang sama tahun 2008.
Mencermati data ini maka perlu kiranya instansi terkait mengantisipasi kecenderung peningkatan harga beras dunia ini, khususnya dalam kajian terhadap kebijakan impor dan ekspor beras, sehingga harga beras dalam negeri tetap terjaga pada level yang rasional.
Dengan harga minyak dunia yang sekarang berkisar pada harga 70 – 80 US $/barrel, adanya perubahan iklim global, dan bencana alam yang akhir-akhir ini frekuensinya cenderung meningkat, maka bukan tidak mungkin harga beras dunia semakin meningkat.
Walaupun demikian, jika diperhatikan secara lebih rinci dengan mendasarkan kepada harga beras bulanan khususnya dengan membandingkan antara harga beras bulan Desember dibandingkan dengan bulan Nopember tahun 2009, menunjukkan bahwa harga beras dunia mengalami peningkatan bahkan beberapa jenis beras harganya juga lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada bulan Desember tahun 2008, sebagaimana ditunjukkan untuk semua jenis beras dari Thailand dan Vietnam. Hanya beras jenis US California Medium Grain dan Basmati Pakistan yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan harga pada bulan yang sama tahun 2008.
Mencermati data ini maka perlu kiranya instansi terkait mengantisipasi kecenderung peningkatan harga beras dunia ini, khususnya dalam kajian terhadap kebijakan impor dan ekspor beras, sehingga harga beras dalam negeri tetap terjaga pada level yang rasional.
Dengan harga minyak dunia yang sekarang berkisar pada harga 70 – 80 US $/barrel, adanya perubahan iklim global, dan bencana alam yang akhir-akhir ini frekuensinya cenderung meningkat, maka bukan tidak mungkin harga beras dunia semakin meningkat.
Monday, January 18, 2010
2010, Lonjakan Harga Teh Dunia Diperkirakan Menurun
Demikian intisari dari siaran pers akhir tahun yang dikeluarkan FAO beberapa waktu yang lalu.
Menurut FAO harga teh dunia untuk teh hitam mencapai rekor tertinggi pada tahun 2009 yang berdasarkan harga kompositnya mencapai 3,18 US $ per kilogramnya, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata2 harga teh tahun 2008 yang hanya mencapai 2,38 US$. Kenaikan ini utamanya disebabkan oleh adanya kekeringan di beberapa Negara utama penghasil teh yaitu: India, Sri Lanka, dan Kenya.
Menurut Sekretaris dari Intergovernmental Group on Tea FAO, Mr. Kaison Chang, beberapa Negara seperti India bernjanji tidak akan melakukan perluasan areal penanaman melebihi apa yang sudah mereka tanam, hal ini bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan antara suplai dan demand dari teh dunia.
Lebih lanjut Mr. Chang mengatakan bahwa pada tahun 2010 ini diperkirakan lonjakan harga teh dunia akan menurun akibat kondisi cuaca yang kembali normal untuk produksi teh.
Dalam siaran pers FAO itu juga dijelaskan bahwa kebutuhan teh dunia tetap tinggi di tengah resesi global sekarang hal ini disebabkan oleh minum teh merupakan kebiasaan yang pengeluaran per rumah tangganya relatif kecil.
Yang menarik dari laporan ini bahwa tidak seperti di Negara maju, harga teh dunia yang tinggi di Negara berkembang akan mempengaruhi harga teh di pasar reteil. Sebagai contoh:pada bulan September 2009 di India rata2 harga teh di pasar reil mencapai harga 15 % lebih tinggi dari pada bulan yang sama di tahun 2008. Di Pakistan pda kurun waktu yang sama harga di pasr reteil meningkat sekitar 12 %.
Menurut FAO harga teh dunia untuk teh hitam mencapai rekor tertinggi pada tahun 2009 yang berdasarkan harga kompositnya mencapai 3,18 US $ per kilogramnya, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata2 harga teh tahun 2008 yang hanya mencapai 2,38 US$. Kenaikan ini utamanya disebabkan oleh adanya kekeringan di beberapa Negara utama penghasil teh yaitu: India, Sri Lanka, dan Kenya.
Menurut Sekretaris dari Intergovernmental Group on Tea FAO, Mr. Kaison Chang, beberapa Negara seperti India bernjanji tidak akan melakukan perluasan areal penanaman melebihi apa yang sudah mereka tanam, hal ini bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan antara suplai dan demand dari teh dunia.
Lebih lanjut Mr. Chang mengatakan bahwa pada tahun 2010 ini diperkirakan lonjakan harga teh dunia akan menurun akibat kondisi cuaca yang kembali normal untuk produksi teh.
Dalam siaran pers FAO itu juga dijelaskan bahwa kebutuhan teh dunia tetap tinggi di tengah resesi global sekarang hal ini disebabkan oleh minum teh merupakan kebiasaan yang pengeluaran per rumah tangganya relatif kecil.
Yang menarik dari laporan ini bahwa tidak seperti di Negara maju, harga teh dunia yang tinggi di Negara berkembang akan mempengaruhi harga teh di pasar reteil. Sebagai contoh:pada bulan September 2009 di India rata2 harga teh di pasar reil mencapai harga 15 % lebih tinggi dari pada bulan yang sama di tahun 2008. Di Pakistan pda kurun waktu yang sama harga di pasr reteil meningkat sekitar 12 %.
Saturday, November 21, 2009
Mentan Indonesia lakukan kunjungan ke Pusat Penelitian Kerbau perah dan pedaging (Istituto Sperimentale per la Zootecnia, Monterotondo, Italia)
Pusat penelitian ini merupakan pusat penelitian kerbau perah utama Italia. Sebagai informasi, kerbau Italia menghasilkan susu tertinggi di dunia yang dapat mencapai 16 liter sehari. Susu kerbau Italia sudah sangat terkenal sabagai sumber bahan baku penghasil keju Mozzarella.
Kunjungan ini dilakukan sebagai upaya untuk menjalin kerjasama dalam pengembangan kerbau di Indonesia yang selama ini masih belum digarap dengan maksimal. Diharapkan adanya kerjasama ini akan dapat menunjang upaya pemerintah untuk mencapai swasembada daging dan juga perbaikan gizi masarakat desa yang banyak beternak kerbau. seperti di wilayah Padang, Pampangan (Sum-Sel), Medan, Toraja dll.
Sampai saat ini sudah tersusun proposal yang akan dicarikan pendanaan untuk pengembangan kerbau di Indonesia. Pemda Sumatera Selatan sudah mengalokasikan sejumlah dana untuk mengirim tim ke Italia yang akan menjajaki kerjasama pengembangan kerbau di wilayah Sumsel.
Pertemuan Mentan Indonesia dengan Mentan Australia, Mr. Tony Burke
Pada pertemuan dengan Menteri tanggal 19 November 2009, pihak Australia telah menanyakan informasi terkait beberapa peraturan import dari Indonesia yang dikhawatirkan dapat menganggu perdagangan kedua negara, terutama peraturan mengenai pengiriman daging sapi.
Menteri Pertanian Indonesia menjelaskan pada prinsipnya tidak terdapat hal-hal baru dalam peraturan tersebut dan Australia tidak perlu terlalu khawatir. Terkait dengan daging bersertifikat halal, hal tersebut lebih disebabkan karena belum ditentukannya penentuan lembaga yang berwenang dalam mengeluarkan sertifikat tersebut. Australia bersedia untuk memfasilitasi kunjungan tim Indonesia terkait hal tersebut.
Hal lain yang perlu diperhatikan Australia terkait ternak adalah berat dari ternak yang akan diimpor tidak melebihi 350 kilogram. Aturan terkait berat ternak tersebut diperlukan untuk memberikan kesempatan kerja bagi para peternak dalam penggemukannya. Australia dapat memahami penjelasan tersebut.
Isu lain yang dibicarakan adalah mengenai pengambilan sample dari setiap pengiriman produk holtikultura Australia, yang dianggap dapat mempertinggi biaya impor produk ini ke Indonesia. Australia dapat memfasilitasi kunjungan tim Indonesia sekiranya diperlukan untuk melihat sendiri proses pengujian yang dilakukan di lembaga mereka. Mentan Indonesia menyatakan akan mempelajari persoalan yang dikemukakan Australia tersebut dan akan menginformasikan kembali kepada Australia.
Di akhir pertemuan, telah dibicarakan kemungkinan kerjasama pengiriman tenaga kerja asing terampil di sektor pertanian di Australia dimana pihak Australia mengatakan akan mengirimkan informasi lebih lanjut terkait hal tersebut. Indonesia menjelaskan bahwa Indonesia memilki potensi tenaga kerja yang kompeten yang kiranya dapat bermanfaat bagi Australia.
Pertemuan Mentan Indonesia dengan Menteri Pertanian Norwegia, Mr. Lars Peder Brekk
Dalam pertemuan ini aspek utama yang dibicarakan adalah tentang International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (IT-PGRFA). Pada kesempatan ini Pemerintah Norwegia menyatakan sangat mendukung terhadap keberhasilan penyelenggaraan pertemuan ke-4 Governing Body yang akan dilaksanakan di Indonesia pada bulan Maret 2011.
Menteri Pertanian Norwegia sebagai pemimpin “Global Task Force” berperan aktif mendukung pendanaan “Benefit Sharing Fund” yang sangat bermanfaat bagi petani di negara berkembang yang mengkonsevasi sumberdaya genetic yang mereka miliki sehingga dapat menjamin ketersediaan pangan. Menteri Pertanian Norwegia memimpin Global Task Force untuk penggalangan dana.
Menjelang pertemuan di Bali, sekretariat IT-PGRFA telah menyusun Road Map. Beberapa Road Map tersebut adalah: pertemuan Ministerial Round Table pada bulan Juni 2010 di Roma, Italia, Policy Seminar pada tanggal 15-18 Desember 2009 di Bari, pertemuan Nordic Council of Ministers pada bulan Juni 2010.
Subscribe to:
Posts (Atom)