Friday, December 12, 2008

FAO: PENDUDUK LAPAR DUNIA MENDEKATI 1 MILYAR !


Hal ini diungkapkan oleh Asisten Dirjen FAO, Mr. Hafez Ghanem dalam FAO-News Release tanggal 9 Desember 2008 kemarin. Menurut FAO tahun 2008 ini diperkirakan jumlah penduduk lapar dunia mencapai 963 juta jiwa yang berarti terjadi peningkatan sekitar 40 juta jiwa dibandingkan dengan tahun 2007 yang lalu.

Dikatakan Mr. Ghanem lebih lanjut bahwa walaupun dalam beberapa waktu ini harga pangan dunia mengalami penurunan tapi situasi ini tidak mampu mengakhiri krisis pangan di banyak negara miskin. Bahkan yang bersangkutan menambahkan, jika penurunan harga pangan dan kredit berkaitan dengan krisis ekonomi yang memaksa petani menanam lebih sedikit tanaman pangan, maka meroketnya harga pangan dunia diperkirakan akan terulang kembali pada tahun 2009.

Dari News Release ini dikemukakan juga bahwa di beberapa wilayah dinilai berhasil dalam menanggulangi persoalan kelaparan ini seperti di wilayah Asia Tenggara, Amerika Latin dan Karibia. Sementara di beberapa negara di wilayah Sub-Sahara Afrika, jumlah penduduk laparnya justru bertambah, termasuk juga di wilayah konflik seperti di Afganistan dan Irak.

Menanggapi hal ini Dr. Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma, mengatakan bahwa para pemimpin dunia dan juga organisasi internasional terkait perlu malakukan kaji ulang terhadap kebijakan dan metode yang selama ini dilakukan dalam penanggulangan penduduk lapar ini, jika tidak maka Target Pembangunan Milenium (Millenium Development Goal) yang dicanangkan tahun 2000 tidak akan tercapai.

Sebagai informasi PBB pada bulan September 2000 yang lalu telah mendeklarasikan suatu target yang dikenal dengan Millenium Development Goal 2015 yang salah satu targetnya adalah mengurangi setengah jumlah penduduk lapar dunia pada tahun 2015. Saat dicanangkan jumlah penduduk lapar dunia masih berkisar 850 juta jiwa. Dari data terbaru yang dikeluarkan FAO ini menunjukkan bahwa dalam kurun 8 tahun jumlah penduduk lapar justru mengalami peningkatan sekitar 100 juta jiwa.
Source: Picture (FAO:Guilio Napolitano)

Pres Release dari Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma, via Campania 53 – 55, Roma 00187

Wednesday, November 19, 2008

KOPI LUWAK JADI REBUTAN




Begitu menariknya kopi luwak bagi para pengunjung pameran di Trieste Espresso Expo yang berlangsung di Kota Trieste, Italia Utara ini, menyebabkan sample kopi luwak yang dibawa PT. Morning Glory terpaksa sebagian dijual dan harganyapun fantastis yaitu: 150 $ untuk 150 gram kopi luwak yang sudah digoreng, artinya 1 gram kopi luwak dihargai 1 $. Padahal kopi luwak yang dibawa ini hanyalah sebagai display untuk menjaring pembeli lebih banyak terhadap kopi termahal di dunia ini. Meskipun demikian masih banyak pengunjung yang menanyakan dan ingin membeli kopi tersebut. Demikian salah satu kesan menonjol yang didapat dari pameran kopi ini.

Indonesia untuk kedua kalinya mengikuti salah satu pameran kopi espresso terbesar di dunia ini. Pada kali ini ikut serta 3 perusahaan swasta pengekspor kopi yaitu PT. Cetara Bumi Persada yang mengkhususkan kopi Toraja, PT. Morning Glory yang membawa berbagai jenis biji kopi dari berbagai daerah Indonesia termasuk kopi luwak, serta PT. Merdeka yang khusus membawa kopi roasted racikan dari berbagai kopi asli Indonesia.

Beberapa hasil dari pameran kali ini adalah terjadi banyaknya kontak bisnis yang merupakan kesempatan bagi tiga perusahaan swasta kopi Indonesia ini untuk memasuki pangsa pasar Italia yang merupakan salah satu negara konsumsi kopi dunia dengan berbagai merek minuman kopi seperti capuccino, espresso, cafelatte dll. Selama pameran yang berlangsung 3 hari sejak tanggal 13 November 2008 ini dihasilkan setidaknya 18 potensi pembeli yang secara serius ingin membeli kopi yang dipamerkan serta berjanji akan menindak lanjutinya lebih jauh. Menariknya beberapa pembeli ini juga berasal dari luar Italia seperti dari Kroasia, Slowenia, Albania, Kosovo, Polandia, Libya serta Italia sendiri.

Sebagai informasi bahwa Trieste Espresso Expo ini merupakan kegiatan setiap 2 tahun sekali yang menampilkan segala aspek yang terkait dengan kopi espresso, mulai dari eksportir, importir, mesin pembuat, alat pendukung seperti pembuat cangkir, kemasan kopi dll, termasuk perusahaan jasa dalam pensortiran kualitas biji kopi. Sedikitnya 200 eksibitor dari 23 negara mengikuti pameran ini.

Pres Release: Dr. Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma

Saturday, November 15, 2008

Persediaan Kopi Dunia Akan Menipis

Demikian pernyataan Dr. Nestor Osorio, Direktur Eksekutif Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization/ICO ) yang disampaikannya dalam seminar sehari sebelum pelaksanaan Trieste Espresso Expo 2008 di kota Trieste Utara Italia. Berdasarkan trend yang ada Mr. Osorio mengatakan bahwa dalam 5 tahun ke depan persediaan kopi dunia akan semakin menurun. Penyebab dari penurunan ini antara lain adalah semakin mahalnya harga input produksi pertanian seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, sehingga menyebabkan produksi kopi dunia semakin sulit meningkat bahkan bisa jadi malah menurun, sementara di sisi lain terjadi peningkatan konsumsi kopi dunia yang tidak saja terjadi di Negara importir kopi tetapi juga di Negara penghasil kopi seperti Brazil, India, Indonesia. Brazil yang merupakan eksportir pertama dunia bisa jadi sekaligus menjadi konsumer kopi terbesar di tahun mendatang, sementara menurut Dr. Surip Mawardi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember yang juga sebagai salah satu pembicara dalam seminar ini mengatakan bahwa laju konsumsi kopi Indonesia mencapai 3 % pertahunnya.

Berdasarkan data dari ICO, konsumsi kopi dunia tahun 2005 mencapai 118 Juta Karung à 60 kg, tahun 2006 meningkat menjadi 121 juta karung, terus meningkat menjadi 125 juta karung tahun 2007, dan tahun 2008 ini diduga konsumsi kopi dunia meningkat menjadi 128 juta karung.

Menanggapi ramalan ini, Dr. Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma berpendapat, informasi ini merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk mengisi pangsa pasar ini mengingat produktivitas kopi rata-rata Indonesia yang relative masing sangat rendah yaitu sekitar 850 kg/ha sementara di banyak Negara produktivitas tanaman kopinya sudah di atas 1 ton/ha bahkan di beberapa Negara bisa mencapai 1,5 ton/ha, disamping masih tersedianya lahan potensial untuk tanaman kopi.

Menanggapi pertanyaan sejauh mana dampak krisis keuangan dunia terhadap permintaan kopi, Dr. Osorio berpendapat bahwa masalah ini belum bisa dipastikan, hanya yang bersangkutan yakin bahwa krisis tersebut tidak akan berpengaruh terhadap konsumsi kopi mengingat kecilnya sharing pengeluaran rumah tangga untuk minum kopi. Selanjutnya dikatakannya juga bahwa selama supply kopi tetap terjamin dengan harga yang masih reasanable, maka kemungkinan perdagangan kopi akan tetap menarik dan pengaruh krisis financial global tidaklah signifikan.

Pembicara yang tampil dalam Seminar Internasional yang mengambil thema” The Rise in World Consumption and the Future of Coffee Production: a Critical Balance” ini selain dari Brazil dan Indonesia, juga tampil perwakilan dari Vietnam, India, dan Guatemala dengan dimoderatori oleg Mr. Vincenzo Sandalj yang merupakan Presiden Asosiasi Kopi Trieste yang perusahaannya juga impor kopi Indonesia.

Pres Release: Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma

Saturday, October 25, 2008

FERRERO MINATI MINYAK SAWIT INDONESIA




Demikian dikatakan oleh Mr. Giovanni Di Palma, Direktur Produksi Perusahaan Ferrero yang memproduksi berbagai jenis produk coklat terkenal di dunia seperti Nutella, Kinder Surprise, Roche, Mon Chèri dll serta permen Tic Tak, saat menerima delegasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia yang dipimpin oleh Dr. Indra Darmawan, Direktur Perencanaan Industri Agribisnis.

Mr. Di Palma menjelaskan bahwa dalam proses produksi produk coklat yang dihasilkan, perusahaan Ferrero yang ada di Alba ini saja memerlukan minyak nabati sebanyak 80 ribu ton setiap tahunnya yang jauh melebihi kebutuhan biji kakao yang hanya sekitar 40 ribu ton. Utuk itu yang bersangkutan sangat berminat agar kebutuhan ini dapat dipenuhi dari minyak sawit Indonesia.

Menanggapi hal ini Dr. Didiek H. Goenadi, Komite Penanaman Modal Bidang Agribisnis BKPM yang juga merupakan Direktur Eksekutif Asosiasi Minyak Sawit Indonesia menyambut baik keinginan ini dan akan menindaklanjutinya lebih jauh.

Selain bahan baku utama berupa biji kakao, pabrik coklat Ferrero di Alba ini juga membutuhkan daun teh lebih dari 1000 ton pertahunnya untuk memproduksi minuman segar rasa teh serta 600 ton kopi, disamping tentu saja gula dan susu..

Menurut Dr. Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma yang menyertai delegasi BKPM ini, Indonesia perlu melakukan pendekatan lebih jauh ke perusahaan ini dengan memberikan beberapa “dispensasi” harga dan kemudahan lainnya sehingga perusahaan ini bersedia menggunakan bahan baku produk Indonesia. “mengingat beberapa merek Ferrero sudah sangat dikenal dunia dan membawa image tersendiri, pemakaian bahan baku dari Indonesia secara tidak langsung juga akan meningkatkan “brand image” bagi produk pertanian Indonesia” demikian Erizal menambahkan.

Sebagai informasi Ferrero merupakan perusahaan pembuat coklat terkenal Italia yang salah satu pabrik terbesarnya berlokasi di kota Alba daerah Utara Italia. Perusahaan ini didirikan oleh suami istri Piera dan Pietro Ferrero tahun 1946 yang diawali dengan usaha skala rumah tangga berupa sebuah toko kecil. Saat sekarang perusahaan ini sudah jauh berkembang. Omset mencapai lebih dari 5,6 miliar $, punya 16 cabang di seluruh dunia serta jumlah karyawan mencapai lebih dari 19 ribu.

(Press Release, Erizal Sodikin, KBRI Roma)

INDONESIA DIUNDANG JADI SPECIAL COUNTRY DI “EUROCHOCOLATE 2009”















Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Ms. Rosanna Melone, Bagian Hubungan Internasional Eurochocolate, organisasi penyelenggara pameran “Eurochocolate 2008”, saat menerima kunjungan delegasi dari BKPM yang berkunjung ke pameran Pameran Eurochocolate yang berlangsung tanggal 18 – 26 Oktober 2008 di kota Perugia, Italia. Menanggapi permintaan ini, delegasi BKPM yang diwakili oleh Dr. Indra Darmawan, Direktur Perencanaan Industri Agribisnis, menyambut baik tawaran ini dan akan melakukan koordinasi dengan berbagai institusi di Indonesia yang terkait dengan kakao dan coklat.

Pameran ini dilaksanakan secara rutin setiap bulan Oktober sejak 15 tahun yang lalu dan pada 5 tahun terakhir menjadi salah salah satu ajang pameran coklat terbesar di dunia. Jumlah pengunjung seperti tahun sebelumnya diperkirakan untuk tahun ini mencapai 1 juta orang.
Pameran yang dilaksanakan di seputar areal di pusat kota Perugia ini selain menampilkan berbagai macam stand penjualan produk coklat dari Italia, Austria, Swiss, dan Jerman dengan sekitar 6 ribu jenis, juga menampilkan berbagai kegiatan mulai dari seni memahat coklat, pertunjukan kebudayaan, pertunjukan cara membuat coklat, pengenalan kepada pada siswa bagaimana bahan baku coklat didapat dan sekaligus cara pengujian cita rasa coklat, pembuatan patung dari coklat dll.
Selain itu panitia juga mengundang beberapa negara produsen kakao seperti Indonesia, Ghana, Pantai Gading, Brasil, Venezuela untuk berbicara dalam suatu seminar yang mengambil thema “In the hearth of chocolate” yang juga mengundang pembicara dari beberapa negara eropa dan LSM terkait dengan coklat. Pada kesempatan ini Indonesia menampilkan pembicara Dr. Didiek H. Goenadi, Komite Penanaman Modal Bidang Agribisnis, yang memaparkan secara singkat tentang Kakao di Indonesia dan program pengembangan investasi ke depan perkebunan Kakao Indonesia. Paparan ini mendapat apresiasi cukup baik dari peserta dengan banyaknya pertanyaan dan keinginan untuk menjalin kerjasama khususnya dalam peralatan pengolahan kakao berskala mikro.

Pres Release: Dr. Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma.

Thursday, October 16, 2008

FAO luncurkan program “Sepak bola melawan kelaparan”


Tanggal 15 Oktober 2008 hari Rabu sore waktu Roma, FAO bekerjasama dengan European Professional Football Leagues (EPFL) meluncurkan suatu program yang dinamakan “Professional Football against hunger”. Peluncuran ini dilakukan di kantor pusat FAO di Roma di sela acara sidang Committee on Food Security (CFS) dan juga terkait dengan peringatan hari pangan sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober.

Pada peluncuran ini hadir pemain bola terkenal Italia di tahun 90-an Roberto Baggio yang merupakan Duta Kemanusiaan FAO dan Dino Zoff kiper terkenal Italia di era tahun 1970-an. Selain Baggio, FAO juga mengangkat Raul Gonzalez Blanco atau lebih dikenal dengan nama Raul, pemain bola terkenal Spanyol yang sekarang berkiprah di klub Real Madrid.

“Saya merasa sangat terhormat atas penunjukan sebagai Duta kemanusiaan FAO untuk memerangi kelaparan dunia karena tugas memerangi kelaparan ini adalah tugas setiap individu” demikian Baggio mengawali kata sambutannya. Lebih lanjut dikatakannya bahwa tanggung jawab ini juga diemban oleh para generasi muda. “Pada kesempatan ini saya mengajak para generasi muda untuk secara bersama memerangi kelaparan dan hal ini tergantung anda apakah kita akan berhasil menggapai kemenangan sehingga kelaparan tidak lagi terjadi di muka bumi ini” demikian Baggio mengakhiri kata sambutannya.

Sementara Dino Zoff, penjaga gawang Italia terkenal di zamannya dalam sambutannya mengatakan bahwa sepak bola mempunyai tanggung jawab moral untuk ikut memerangi kelaparan dunia. Selanjutnya ditambahkannya bahwa upaya memerangi kelaparan ini adalah tugas yang berat dan bahkan lebih berat dari pada upaya menggapai juara dunia bola kaki.

Peluncuran acara ini selain dihadiri oleh perwakilan pemain sepakbola profesional, juga dihadiri oleh Dirjen FAO, Sekjen EPFL, Menteri Olaha Raga Italia, Austria, dan Sepanyol, serta utusan liga dari beberapa negara seperti Bundes Liga, Liga Italia, Liga Portugal, disamping juga beberapa peserta dari perwakilan negara yang sedang mengikuti sidang CFS.

Kerjasama antara FAO dengan EPFL yang membawahi 28 liga di Eropa ini bertujuan untuk merangsang kepedulian berbagai pihak tentang pentingnya penanggulangan persoalan kelaparan penduduk dunia yang saat sekarang jumlahnya masih mencapai 900 juta jiwa lebih. Disamping itu kerjasama ini juga bertujuan untuk mengkampanyekan penggalangan dana untuk mendukung program pangan FAO khususnya yang terkait dengan program TeleFood yang sudah dirasakan manfaatnya oleh banyak negara berkembang.

Acara peluncuran “Professional Football against hunger” in diakhiri dengan penyerahan kaos bernomor punggung 10 oleh Roberto Baggio kepada Dirjen FAO, J. Diouf dan dilanjutkan dengan penandatanganan plakat oleh berbagai pihak sebagai simbol dimulainya kerjasama ini.
(Pres Release: Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma)

Saturday, September 13, 2008

Harga Beras Dunia Terus Turun

Demikian hasil pengamatan terhadap data yang baru saja dikeluarkan oleh FAO melalui “FAO Rice Price Update” untuk bulan September 2008.
Dari informasi yang diberikan FAO ini menunjukkan bahwa harga beras dunia selama 3 bulan terakhir sejak bulan juni mengalami penurunan. Dibandingkan dengan bulan Mei 2008 indeks harga beras yang dikeluarkan FAO mengalami penurunan dari 322 menjadi 281 di bulan Agustus 2008 atau terjadi penurunan sekitar 12,7 %. Penurunan ini terjadi untuk padi jenis Indica dan Aromatic, sementara untuk jenis Japonica indeks harganya mengalami sedikit kenaikan,
Jika mengacu kepada harga beras pada bulan Mei 2008 yang merupakan harga beras tertinggi yang pernah dicapai, maka harga beras pada bulan Agustus ini yang mengalami penurunan tertinggi dialami oleh beras dari Vietnam dengan variasi penurunan antara 36,7 % (Vietnam 25 %) dan tertinggi 39,8% untuk jenis Vietnam 5%. Beras asal Thailand juga mengalami penurunan yang berarti mulai penurunan sekitar 18,2% untuk jenis Thai White 100% second grade sampai penurunan mencapai 24,3% untuk jenis beras Thai 25 %. Jenis beras Pakistan 25 % juga mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 28,7 %. Hanya jenis beras Basmati Pakistan yang stabil di harga 1100 $/ton, sementara beras jenis US California Medium Grain justru mengalami sedikit peningkatan menjadi 1053 $/ton yang di bulan Juli harganya masih 1036 $/ton.
Informasi dari Ms. C. Calpe, Ekonom Senior FAO dan sekaligus sekretaris dari Intergovernmental Group on Rice pada Devisi Perdagangan dan Pasar FAO mengatakan bahwa trend penurunan harga beras dunia ini disebabkan semakin meningkatnya suplai beras ke pasar dunia. Menurutnya masih sulit memastikan apakah kecenderungan harga ini akan terus berlanjut karena masih sangat tergantung kepada tingkat produksi pada musim panen berikutnya di bulan Oktober dan Nopember nanti. Ms. Calpe juga menambahkan bahwa adanya angin topan yang melanda Amerika Tengah nampaknya juga akan sedikit mengerem laju penurunan harga beras ini. Disamping itu penomena bencana alam juga sangat mempengaruhi tingkat kebutuhan negara importir beras seperti Philipina dan juga Indonesia, juga menjadi penentu sehingga fluktuasi harga ini masih labil dan sulit diprediksi.

Catatan KBRI
Membaca trend 3 bulan terakhir, nampaknya harga beras dunia akan terus mengalami penurunan meskipun harga yang ada ini tetap saja jauh di atas harga beras dunia di era tahun 2007. Pengamatan perlu selalu dilakukan khususnya melihat tekanan penurunan beras dari Vietnam dan Thailand yang mencapai kisaran di atas 20 % dibandingkan bulan Mei 2008 yang lalu. Perlu dianalisis apakah penurunan harga ini karena negara ini melonggarkan pembatasan ekspor atau karena memang produksi mereka yang tinggi. Pengamatan ini penting terkait dengan kestabilan harga beras di kawasan ASEAN yang tentunya akan berimbas langsung terhadap harga beras dalam negeri. Jika harga beras Internasional lebih rendah dari harga beras dalam negeri, maka akan besar kemungkinan beras impor masuk dan pada akhirnya menekan harga beras dalam negeri. Imbas selanjutnya tentunya akan terkena ke petani sebagai produser beras.


Press Release:

Erizal Sodikin
Atase Pertanian KBRI Roma

Ein schoenes Lied

Noch einen schoenes Lied