Friday, November 19, 2010

PROMOSI SAWIT DI ROMA


Dalam upaya untuk meningkatkan penetrasi pasar cpo dan juga menepis anggapan negatif beberapa pihak di Eropa tentang sawit Indonesia, maka pada tanggl 18 November 2010, Kementan RI bekerjasama dengan KBRI Roma, telah menyelenggarakan kegiatan promosi minyak sawit Indonesia melalui acara business meeting on Promoting Indonesia’s Sustainable Palm Oil di Roma.

Acara yang dibuka oleh Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementan, Dr. Ir. Zaenal Bachruddin, Msc ini dihadiri oleh 41 investor dan pelaku usaha yang terkait dengan palm oil, dengan menampilkan pembicara Dubes RI Roma, Moh. Oemar; Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dr. Fadhil Hasan; dan Sekjen Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Paulus Tjakrawan Taningdjaja. Acara dimoderatori oleh Ketua Pelaksana Harian Komisi Minyak Sawit Indonesia, Dr. Rosediana Suharto.

Dubes RI Roma dalam paparannya yang berjudul Indonesia’s Sustainable Palm Oil mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia sangat memperhatikan pelestarian lingkungan jauh sebelum CPO menjadi isu. “Pemerintah RI telah mengeluarkan berbagai peraturan yang mewajibkan para pengusaha untuk memperhatikan aspek lingkungan” kata Dubes Oemar mempertegas pernyataannya.

Lebih lanjut Dubes mengajak para pelaku bisnis palm oil di Italia untuk memanfaatkan peluang investasi untuk megembangkan industri hilir CPO di Indonesia karena sampai tahun 2020 diperkirakan potensi investasi industri hilir ini mencapai US $ 567 – 750 juta.

Sementara itu Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP), Kementerian Pertanian RI, dalam sambutannya mengatakan bahwa industri CPO di Indonesia memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia. Dirjen selanjutnya menyatakan bahwa ekspor CPO Indonesia ke Italia dapat lebih ditingkatkan mengingat Italia adalah salah satu konsumen utama CPO di dunia.

Selanjutnya diadakan acara tanya jawab, yang lebih tertuju kepada persoalan harga cpo yang akhir2 ini semkin mahal, dan dijelaskan beberapa faktor penyebab kenaikan harga tersebut antara lain: harga dunia minyak mentah dan minyak nabati lainnya, dan permainan para broker.

Monday, November 1, 2010

Saatnya Kopi Arabika Indonesia memasuki Italia
































Dari beberapa komentar pengunjung yang mencicipi kopi arabika di stand pameran kopi Indonesia di pameran Trieste Espresso Expo yang berakhir 30 Oktober 2010 yang lalu, menunjukkan bahwa kopi arabika Indonesia mempunyai prospek yang cukup baik untuk memasuki wilayah eropa khususnya Italia yang selama ini Indonesia lebih banyak memasok kopi jenis robusta.

Harus diakui publik Italia lebih mengenal kopi yang berasal dari wilayah Amerika Latin khususnya untuk jenis kopi Arabika dari pada dari wilayah Indonesia. Berbeda dengan jenis kopi Robusta Indonesia yang sudah sangat dikenal para importir seluruh dunia khususnya eropa yang merupakan campuran dari racikan (blend) kopi yang dihasilkan para roaster terkenal Italia seperti Lavazza, Sega Fredo, Sandalj, Corsino Corsini dll.

Illycaffè Spa yang sudah sangat terkenal dengan blend single arabikanya juga memberikan pendapatnya bahwa arabika Indonesia mempunyai prospek untuk memasok kebutuhan bahan baku kopi mereka, sebagaimana dinyatakan oleh Mr. Furio Suggi Liverani, Director Research and Technology Development dari Illycaffè Spa saat menerima delegasi Indonesia yang berkunjung ke perusahaan tersebut. Terkait dengan hal ini maka Illycaffè tertarik untuk melakukan kunjungan ke Indonesia guna mencari jenis kopi arabika yang tepat dan sesuai dengan rasa dan kualitas yang mereka inginkan. Keinginan ini yang akan ditindak lanjuti oleh Direktorat P2HP, Kementrian Pertanian.

Dalam kesempatan pameran ini, beberapa perusahaan seperti Ali Bourgi dari Perancis, Sarl Sufaleg dari Aljazair, Kaffein Akademia dari Hungaria, Manifattura Caffe dan Zusicaff SRL dari Italia berkeinginan membeli kopi Indonesia.

Selain memajang biji kopi jenis robusta berbagai wilayah Indonesia, kopi arabika, paviliun Indonesia juga memamerkan kopi luwak yang merupakan kopi termahal di dunia yang banyak mendapat perhatian pengunjung. Disamping itu paviliun Indonesia juga menyajikan minuman kopi espresso maupun capuccino dari perusahaan PT Morning Glory yang selama 3 hari pameran ini menghabiskan sekitar 1.500 cangkir kopi.

Sebagai informasi pameran Trieste Espresso Expo tahun ini dilaksanakan pada tanggal 28 – 30 Oktober 2010. Kali ini Indonesia menempati dua stand pameran yaitu di paviliun utama A4 dan paviliun E1-58 dengan menyertakan 26 ekspotir kopi Indonesia yang berasal dari AEKI Jawa Timur, AEKI Lampung, beberapa perusahaan dari Medan, dan Jawa Barat.

Selain kegiatan pameran, delegasi Indonesia juga mengunjungi perusahaan kopi Lavazza, Illy, Sandalj, perusahaan pensortir kopi Paccorini, serta mengadakan temu bisnis, disamping itu bersamaan dengan pameran ini Dubes Roma Bpk. Moh. Oemar juga menyampaikan presentasi tentang Investasi, Perdagangan dan Turis Indonesia di kantor kamar dagang Trieste dengan didampingi oleh presiden Kadin Trieste, Mr. Antonio Paoletti.

Indonesia secara aktif mengikuti pameran ini sejak tahun 2006. Harapannya dengan pameran ini akan mendorong interaksi lebih luas antara pengusaha kopi Indonesia dengan importir kopi Luar Negeri khsususnya untuk kawasan Italia dan eropa timur yang ke berbatasan langsung dengan kota Trieste. Selanjutnya setelah pameran ini berakhir diharapkan akan ada tindak lanjut berupa kesepakatan pembelian kopi Indonesia dengan para mitranya sehingga ekspor kopi Indonesia semakin lama semakin meningkat.

Monday, October 25, 2010

26 EXPORTIR KOPI INDONESIA IKUTI ESPRESSO EXPO DI TRIESTE ITALIA

Minum kopi adalah salah satu kebiasaan yang telah menyatu dengan masyarakat Italia disamping sepak bola. Tidak heran Italia dalam dua hal ini menjadi negara yang sangat terkenal. Klub bola seperti Juventus, Inter Milan, As Roma dll sangat terkenal se-antero dunia. Sementara semua orang tahu tentang kopi capuchino, espresso, koffee-latte dll adalah juga merupakan brand-mark Italia.
Sebagai negara yang banyak mengkreasi muniman kopi, maka Italia juga mengadakan pameran soal kopi ini khususnya kopi espresso yang secara rutin dilaksanakan setiap dua tahun sekali di kota Trieste, utara Italia yang terkenal dengan nama Treiste-Espresso-Coffee Expo yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Untuk tahun ini pameran akan dilaksanakan tanggal 28 – 20 Oktober 2010 di Trieste Fiera, kota Trieste.
KBRI Roma bekerjasama dengan Direktorat Pemasaran Internasional P2HP Kementan akan berpartisipasi pada pameran ini. Pada pameran kali ini, Indonesia menyertakan 26 perusahaan exportir kopi Indonesia yang tergabung dalam EAKI Jawa Timur, AEKI Lampung, serta beberapa perusahaan dari Jawa Barat, Sumatera Utara, Bali, Sumatera Barat yang akan menampilkan berbagai jenis kopi Indonesia termasuk kopi Luwak yang merupakan kopi termahal di dunia.
Selain kegiatan pameran, delegasi Indonesia juga akan mengunjungi perusahaan kopi Lavazza di Turino, Illy Coffee di Trieste, Pelabuhan laut Trieste, Perusahaan pensortir kopi terkenal Paccorini, serta akan diadakan juga pertemuan bisnis antara pengusaha kopi Indonesia dengan pengusaha kopi dari Italia dan negara lain, disamping itu tanggal 28 Oktober 2010 KBRI Roma bekerjasama dengan Chamber of Commerce Trieste akan mengadakan acara khusus “Country Presentation, Indonesian Potentials on Trade, Investment and Tourism”.
Mengingat delegasi yang cukup besar serta upaya Indonesia untuk mempromosikan kopinya ke manca negara, maka KBRI Roma mengajak para warga negara Indonesia yang bermukim di sekitar Trieste seperti termasuk di negara Austria, Slowenia untuk berpartisipasi menyebarkan informasi ini serta mengundang mereka untuk mengunjungi Paviliun Indonesia tersebut.
Diharapkan dengan pameran ini Kopi Indonesia dapat merebut kembali posisi tiga besar negara pemasok kopi Italia yang pernah dipunyai Indonesia di tahun 70-an.

Friday, October 15, 2010

Bersatu Melawan Kelaparan

Hari ini tanggal 15 Oktober 2010 telah berlangsung peringatan Hari Pangan Dunia di Kantor Pusat FAO Italia. Pada peringatan Hari Pangan Dunia yang ke 30 kali ini, yang bertindak sebagai pembicara utama adalah Paul Kagame, Presiden dari Rwanda.

Pesan utama dari peringatan kali ini adalah bahwa penyelesaian persoalan kelaparan dunia merupakan hal yang mendesak dan kewajiban dari semua institusi dan pemerintahan pada setiap tingkatan. Untuk itu Dirjen FAO dalam kata sambutannya mengajak setiap kita untuk bersatu menyelesaikan persoalan tersebut.

Salah satu persoalan meningkatnya jumlah penduduk lapar dunia sebagaimana yang dikemukakan Dirjen FAO adalah terjadinya tren negatif jangka panjang terhadap bantuan pembangunan di sektor pertanian yang pada tahun 1980-an mencapai sekitar 19% menjadi hanya 3% pada tahun 2006 dan sekarang berkisar 6% saja dari bantuan pembangunan secara umum.

Di sisi lain menurut FAO negara-negara berpendapatan rendah yang mengalami defisit pangan hendaknya mampu meningkatkan anggaran pembangunan pertaniannya dari rata-rata sekarang 5% menjadi paling sedikit 10% dari keseluruhan anggaran pembangunannya.
Sementara itu dalam pidatonya Presiden Kagame mengingatkan beberapa hal untuk menyelesaikan kelaparan dunia salah satunya adalah perlunya realisasi bantuan-bantuan yang dijanjikan pada berbagai pertemuan tingkat dunia serta perlunya kemauan politik (political will) dari pimpinan dunia untuk merealisasikan janji ini.

Pada peringatan tahun ini selain berbicara Direktur Eksekutif WFP dan Presiden IFAD tampil juga Anggun, penyanyi Indonesia yang mendunia dengan menyanyikan sebuah lagu hitnya yang berjudul “Snow on the Sahara” di samping beberapa Goodwill Ambassador FAO lainnya salah satunya Gina Lolobrigida. Pada kesempatan ini FAO juga memberikan penghargaan the Agrocola Medal (post-humous) kepada Dr. Norman Borlaug (alm) yang merupakan bapak revolusi hijau dunia.

Thursday, September 30, 2010

FAO HARUS LEBIH EFEKTIF DAN EFISIEN











Demikian salah satu poin utama yang disampaikan Menteri Pertanian Indonesia Dr. Suswono dalam intervensi nya pada Ministerial Meeting di konferensi ke 30 regional FAO Asia Pasifik yang sedang berlangsung di kota tua Gyeongju, Korea Selatan.

Selanjutnya Mentan mengatakan bahwa meningkatnya jumlah penduduk lapar dunia pada 10 tahun terakhir mencerminkan kurang efektifnya tindakan organisasi dunia dalam memerangi kelaparan. Oleh karena itulah Indonesia mengharapkan FAO dan organisasi Internasional lainnya dapat secara bersinergi menciptakan kegiatan dan proyek yang lebih efektif dan efisien dengan melibatkan secara penuh negara anggota tidak saja dalam pelaksanaan, tetapi juga dalam merencanakan dan menyusun kegiatan atau proyek.

Sebelum sidang tingkat menteri dilaksanakan, hari Rabu tanggal 29 September kemarin Mentan Indonesia didampingi oleh Dubes Indonesia untuk Korsel Bpk. Nicholas T. Damme dan Staf Ahli Mentan Bidang KLN, Ibu Yusni Emilia Harahap, melakukan pertemuan bilateral dengan mentan Korsel, Jeong Bok Yoo. Kedua negara sepakat memperkuat kerjasama dalam bidang pertanian melalui pembentukan working group dalam bidang pertanian, dan berusaha secepat mungkin menyelesaikan draft MoU yang sedang disusun bersama. Dalam pertemuan bilateral ini ikut serta juga Bpk. Prof. Dr. Indroyono Soesilo, Ses Menko Kesra yang merupakan Calon Dirjen FAO dari Indonesia untuk periode jabatan 2011 – 2014.

Sebagai informasi Konferensi Regional FAO Asia Pasifik ke 30 berlangsung tanggal 27 September – 1 Oktober 2010 di kota Gyeongju, Korea Selatan. Konferensi ini dibagi dalam 2 sesi yaitu Senior Official Meeting (SOM) dengan ketua delegasi Dr. Gatot Irianto Sumardjo, Ka Badan Litbang Kementan, dan Ministerial Meeting (MM) dengan Dr. Suswono, menteri Pertanian sebagai Ketua Delrinya.

Presiden Korsel Lee Myung Bak secara resmi membuka pertemuan tingkat menteri dan memberikan kata sambutannya yang menjelaskan secara singkat bagaimana Korsel keluar dari kemiskinan menjadi salah satu negara maju di dunia melalui kerja keras.

Friday, July 9, 2010

FAO BERIKAN AKSES DATA STATISTIK GRATIS

Dalam Siaran persnya tertanggal 9 Juli 2010 hari ini, FAO menyatakan bahwa sekarang FAO memberikan akses data statistik gratis melalui FAOSTAT kepada setiap orang, sementara dahulu seseorang dapat mengakses data melalui FAOSTAT ini secara gratis hanya untuk data tertentu dan jumlahnya terbatas.

Sebagai informasi FAOSTAT merupakan database statistik terlengkap di dunia tentang pangan, pertanian (termasuk peternakan, kehutanan, dan perikanan), dan kelaparan yang mencakup 210 negara dan wilayah, dengan lebih dari 1 juta data.

Menurut Mr. Hafez Ghanem, Asisten Dirjen FAO yang membawahi Pembangunan Sosial dan Ekonomi, pemberian kebebasan dalam mengakses data statistik yang dipunyai FAO ini sangat penting sebagai alat untuk memerangi kemiskinan, mempromosikan pembangunan berkelanjutan, dan mengilangkan kelaparan. Mr. Ghanem berharap para ahli ekonomi, perencana, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia akan menggunakan data yang ada dengan baik.

Sementara Pietro Gennari, Direktur Devisi Statistik FAO mengatakan: “FAOSTAT merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk melihat dimana kelaparan terjadi, memahami kenapa terjadi kelaparan, dan apa yang mungkin perlu dilakukan untuk menanggulangi kelaparan tersebut”.

Secara umum FAOSTAT memuat data antara lain tentang produksi pertanian dan pangan, penggunaan pupuk dan pestisida, pengapalan bantuan pangan, produksi kehutanan dan perikanan, irigasi dan penggunaan air, penggunaan lahan, trend pupulasi penduduk dunia, perdagangan produk pertanian, penggunaan mesin pertanian (mekanisasi pertanian) dan lain sebagainya.

FAOSTAT menyajikan data dalam tiga bahasa yaitu Inggris, Prancis, dan Spanyol, dalam bentuk tabel, grafik, dan dapat diunduh dalam format program Excel. Cara mengaksesnya sangat mudah dengan memasukkan kata kunci FAOSTAT maka pengakses akan masuk ke websitenya dan dapat memilih akses yang diinginkan.

Thursday, April 1, 2010

PENGGUNDULAN HUTAN DUNIA MENURUN

Demikian intisari dari hasil penilaian FAO terhadap kondisi hutan dunia selama 10 tahun terakhir yang termuat dalam The Global Forest Resources Assestment 2010 yang merupakan hasil studi di 233 negara dan wilayah.

Walaupun demikian, FAO mengingatkan bahwa di beberapa negara tingkat penggundulan hutan masih pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Secara global setiap tahun selama kurun waktu tahun 2000 – 2010 ada sekitar 13 juta hektar hutan mengalami peralihan fungsi baik disengaja maupun akibat kejadian alamiah seperti kebakaran, serangan hama dan penyakit, badai, banjir, gempa dll. Jumlah ini mengalami penurunan sekitar 3 juta hektar dibandingkan dengan kurun waktu tahun 90-an yang mencapai sekitar 16 juta hektar penggundulan hutan per tahun.
Brazil dan Indonesia, dua negara yang pada tahun 90-an dinilai tertinggi tingkat penggundulan hutannya, menurut FAO justru pada kurun waktu 2000 – 2010 berhasil secara nyata menurunkan tingkat penggundulan hutannya. Disamping negara China, India, USA, dan Viet Nam.

Pada tahun 90-an tingkat penggundulan hutan per tahun di Brazil mencapai 2,9 juta hektar, sementara pada kurun waktu 2000 – 2010 tingkat penggundulan hutannya mengalami penurun menjadi sekitar 2,6 juta hektar per tahunnya.

Indonesia sendiri berhasil secara nyata menurunkan tingkat penggundulan hutan ini dari sekitar 1,9 juta hektar per tahun pada kurun waktu 90-an menjadi hanya sekitar 0,5 juta hektar pertahun pada kurun waktu 2000 – 2010.

Beberapa informasi penting lainnya terkait dengan hutan adalah bahwa jumlah hutan primer saat sekarang sekitar 36 % dari seluruh hutan dunia tetapi dari data yang ada menunjukkan bahwa hal ini mengalami penurunan sekitar 40 juta hektar sejak tahun 2000. Hal ini disebabkan adanya perubahan klasifikasi dari hutan primer ke hutan lainnya akibat penebangan selektif maupun campur tangan manusia lainnya.
Sedangkan hutan lain yang merupakan hutan lindung atau cagar alam jumlahnya mencapai sekitar 13 persen dari selurh luas hutan dunia.

Monday, March 8, 2010

Bioteknologi hendaknya memperhatikan kepentingan pertanian skala kecil dan kesejahteraan petaninya

Demikian salah satu hasil penting yang disepakati dalam konferensi tentang bioteknologi di Negara berkembang yang berakhir Kamis sore pada tanggal 4 Maret 2010 di Guadalajara Meksiko.

Selain keputusan tersebut peserta pertemuan juga sepakat perlunya pendanaan yang berkelanjutan untuk mengembangkan bioteknologi di Negara berkembang dengan melalui kerjasama yang melibatkan sektor pemerintah, swasta, dan organisasi kemasyarakatan khususnya yang menaungi kepentingan petani dan pertanian dalam arti luas.

Sebagai salah satu pertemuan penting yang dilakukan FAO terkait dalam penerapan bio teknologi, delegasi Indonesia menilai pertemuan ini cukup berhasil dalam memetakan kembali peran penting bio teknologi dalam pembangunan pangan dan pertanian di negara berkembang dalam era globalisasi ini.

Delegasi Indonesia pada kesempatan ini menekankan perlunya Organisasi Internasional terkait dan negara donor yang sementara ini merupakan pemilik utama bio-tekonologi untuk mengupayakan apa yang disebut dengan “pro-poor bio technologies”. Sedangkan delegasi lain menambahkan agar isu keterlibatan, pengetahuan dan kontrol petani atas penerapan teknologi termaksud.

Sebagai informasi, konferensi teknis internasional Organisasi Pangan Dunia (FAO) tentang bioteknologi pertanian di negara-negara berkembang (FAO International Technical Conference on Agricultural Biotechnologies in Developing Countries 2010 /FAO ABDC 2010) telah berlangsung di Guadalajara, Mexico pada tanggal 1-4 Maret 2010. Pertemuan yang merupakan hasil kerjasama FAO, IFAD Pemerintah Mexico serta beberapa lembaga riset internasional ini dihadiri oleh sekitar 350 orang dari kalangan peneliti, LSM, Oranisasi Internasional / Regional, pemerintah, serta beberapa perwakilan setingkat Menteri dari 56 negara dan 26 organisasi yang bertindak sebagai pengamat. Delegasi RI terdiri dari Atase Pertanian Roma, Counsellor Multilateral KBRI Roma, 3 (tiga) orang peneliti dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan, serta unsur KBRI Mexico City.

Wednesday, March 3, 2010

MUNGKINKAH BIOTEKNOLOGI TANGGULANGI KELAPARAN DUNIA



Pertanyaan di atas merupakan salah satu pertanyaan utama yang mengemuka pada diskusi yang terjadi pada konferensi tentang Bioteknologi di negara berkembang yang berlangsung tanggal 1 – 4 Maret 2010 di Guadalajara Meksiko. Bertindak sebagai sponsor utama pada konferensi ini adalah fao, Ifad, CGIAR, dan pemerintah Meksiko. Isu lain yang juga menjadi pertanyaan utama adalah sejauh mana peranan bioteknologi bagi peningkatan kesejahteraan kaum miskin di pedesaaan Negara berkembang.

Konferensi yang mengambil thema: “The Technical Conference on Agricultural Technologies in Developing Countries: Option and Opportunities in Crops, Forestry, Livestock, Fisheries, and Agro-industry to face the Challenges of Food Security, and Climate Change” dihadiri oleh paling tidak sekitar 200 lebih peserta yang berasal dari 50 negara lebih dan utusan berbagai organisasi Internasional dan LSM dunia termasuk Indonesia yang diwakili oleh utusan institusi Kementrian Pertanian, Kementrian Kehutanan, dan unsur KBRI Roma dan KBRI Maksiko.

Dalam kata sambutannya Asisten Dirjen FAO, Mr. Madibo Traore, atas nama Dirjen FAO, mengatakan bahwa Bioteknologi modern dan juga yang konvensional merupakan alat yang sangat berpotensi bagi sektor pertanian dalam arti luas termasuk perikanan dan kehutanan. Dikatakan selanjutnya bahwa walaupun demikian bioteknologi menurut Mr. Traore belum memberikan pengaruh yang memadai terhadap kehidupan petani di Negara berkembang.

Konferensi yang membahas aspek Bioteknologi dalam arti luas ini diarahkan untuk tidak terfokus ke tema bahasan tentang GMO (Genetically Modified Organisms) yang selama ini memang merupakan thema yang masih bersifat kontroversial, tetapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat teknis dan menghindari aspek yang terkait dengan politik.

Dalam siaran persnya FAO juga mengemukakan beberapa inovasi yang dihasilkan oleh bioteknologi ini beberapa misalnya: padi hibrida Afrika, hasil susu sapi perah di Bangladesh, penggunaan metode berdasarkan DNA untuk mendeteksi penyakit udang di India.

Dari konferensi ini diharapkan akan dihasilkan beberapa rekomendasi dan masukan bagaimana peranan Bioteknologi di Negara berkembang dalam menanggulangi persoalan penyediaan pangan dan penanggulangan kemiskinan di tengan terjadinya perubahan lingkungan hidup dan kelaparan dunia.

Tuesday, January 19, 2010

HATI-HATI, HARGA BERAS DUNIA MERANGKAK NAIK

Dalam laporan yang dikeluarkan FAO yang termuat dalam “FAO Rice Price Update” untuk bulan Januari 2010 terungkap bahwa berdasarkan indeks harga beras fao, menunjukkan bahwa harga beras dunia secara rata-rata untuk tahun 2009 mengalami penurunan sekitar 14,2 % dibandingkan dengan kurun waktu tahun 2008. Penurunan tertinggi dialami beras jenis Indica kualitas rendah yang mencapai penurunan sekitar 31,8 % pada kurun waktu yang sama, sementara untuk jenis beras Japonica justru sedikit mengalami kenaikan di tahun 2009 ini sebesar 8,2 %.

Walaupun demikian, jika diperhatikan secara lebih rinci dengan mendasarkan kepada harga beras bulanan khususnya dengan membandingkan antara harga beras bulan Desember dibandingkan dengan bulan Nopember tahun 2009, menunjukkan bahwa harga beras dunia mengalami peningkatan bahkan beberapa jenis beras harganya juga lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada bulan Desember tahun 2008, sebagaimana ditunjukkan untuk semua jenis beras dari Thailand dan Vietnam. Hanya beras jenis US California Medium Grain dan Basmati Pakistan yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan harga pada bulan yang sama tahun 2008.

Mencermati data ini maka perlu kiranya instansi terkait mengantisipasi kecenderung peningkatan harga beras dunia ini, khususnya dalam kajian terhadap kebijakan impor dan ekspor beras, sehingga harga beras dalam negeri tetap terjaga pada level yang rasional.

Dengan harga minyak dunia yang sekarang berkisar pada harga 70 – 80 US $/barrel, adanya perubahan iklim global, dan bencana alam yang akhir-akhir ini frekuensinya cenderung meningkat, maka bukan tidak mungkin harga beras dunia semakin meningkat.

Monday, January 18, 2010

2010, Lonjakan Harga Teh Dunia Diperkirakan Menurun

Demikian intisari dari siaran pers akhir tahun yang dikeluarkan FAO beberapa waktu yang lalu.

Menurut FAO harga teh dunia untuk teh hitam mencapai rekor tertinggi pada tahun 2009 yang berdasarkan harga kompositnya mencapai 3,18 US $ per kilogramnya, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata2 harga teh tahun 2008 yang hanya mencapai 2,38 US$. Kenaikan ini utamanya disebabkan oleh adanya kekeringan di beberapa Negara utama penghasil teh yaitu: India, Sri Lanka, dan Kenya.

Menurut Sekretaris dari Intergovernmental Group on Tea FAO, Mr. Kaison Chang, beberapa Negara seperti India bernjanji tidak akan melakukan perluasan areal penanaman melebihi apa yang sudah mereka tanam, hal ini bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan antara suplai dan demand dari teh dunia.
Lebih lanjut Mr. Chang mengatakan bahwa pada tahun 2010 ini diperkirakan lonjakan harga teh dunia akan menurun akibat kondisi cuaca yang kembali normal untuk produksi teh.

Dalam siaran pers FAO itu juga dijelaskan bahwa kebutuhan teh dunia tetap tinggi di tengah resesi global sekarang hal ini disebabkan oleh minum teh merupakan kebiasaan yang pengeluaran per rumah tangganya relatif kecil.
Yang menarik dari laporan ini bahwa tidak seperti di Negara maju, harga teh dunia yang tinggi di Negara berkembang akan mempengaruhi harga teh di pasar reteil. Sebagai contoh:pada bulan September 2009 di India rata2 harga teh di pasar reil mencapai harga 15 % lebih tinggi dari pada bulan yang sama di tahun 2008. Di Pakistan pda kurun waktu yang sama harga di pasr reteil meningkat sekitar 12 %.

Saturday, November 21, 2009

Mentan Indonesia lakukan kunjungan ke Pusat Penelitian Kerbau perah dan pedaging (Istituto Sperimentale per la Zootecnia, Monterotondo, Italia)


Pusat penelitian ini merupakan pusat penelitian kerbau perah utama Italia. Sebagai informasi, kerbau Italia menghasilkan susu tertinggi di dunia yang dapat mencapai 16 liter sehari. Susu kerbau Italia sudah sangat terkenal sabagai sumber bahan baku penghasil keju Mozzarella.

Kunjungan ini dilakukan sebagai upaya untuk menjalin kerjasama dalam pengembangan kerbau di Indonesia yang selama ini masih belum digarap dengan maksimal. Diharapkan adanya kerjasama ini akan dapat menunjang upaya pemerintah untuk mencapai swasembada daging dan juga perbaikan gizi masarakat desa yang banyak beternak kerbau. seperti di wilayah Padang, Pampangan (Sum-Sel), Medan, Toraja dll.

Sampai saat ini sudah tersusun proposal yang akan dicarikan pendanaan untuk pengembangan kerbau di Indonesia. Pemda Sumatera Selatan sudah mengalokasikan sejumlah dana untuk mengirim tim ke Italia yang akan menjajaki kerjasama pengembangan kerbau di wilayah Sumsel.

Pertemuan Mentan Indonesia dengan Mentan Australia, Mr. Tony Burke


Pada pertemuan dengan Menteri tanggal 19 November 2009, pihak Australia telah menanyakan informasi terkait beberapa peraturan import dari Indonesia yang dikhawatirkan dapat menganggu perdagangan kedua negara, terutama peraturan mengenai pengiriman daging sapi.

Menteri Pertanian Indonesia menjelaskan pada prinsipnya tidak terdapat hal-hal baru dalam peraturan tersebut dan Australia tidak perlu terlalu khawatir. Terkait dengan daging bersertifikat halal, hal tersebut lebih disebabkan karena belum ditentukannya penentuan lembaga yang berwenang dalam mengeluarkan sertifikat tersebut. Australia bersedia untuk memfasilitasi kunjungan tim Indonesia terkait hal tersebut.

Hal lain yang perlu diperhatikan Australia terkait ternak adalah berat dari ternak yang akan diimpor tidak melebihi 350 kilogram. Aturan terkait berat ternak tersebut diperlukan untuk memberikan kesempatan kerja bagi para peternak dalam penggemukannya. Australia dapat memahami penjelasan tersebut.

Isu lain yang dibicarakan adalah mengenai pengambilan sample dari setiap pengiriman produk holtikultura Australia, yang dianggap dapat mempertinggi biaya impor produk ini ke Indonesia. Australia dapat memfasilitasi kunjungan tim Indonesia sekiranya diperlukan untuk melihat sendiri proses pengujian yang dilakukan di lembaga mereka. Mentan Indonesia menyatakan akan mempelajari persoalan yang dikemukakan Australia tersebut dan akan menginformasikan kembali kepada Australia.

Di akhir pertemuan, telah dibicarakan kemungkinan kerjasama pengiriman tenaga kerja asing terampil di sektor pertanian di Australia dimana pihak Australia mengatakan akan mengirimkan informasi lebih lanjut terkait hal tersebut. Indonesia menjelaskan bahwa Indonesia memilki potensi tenaga kerja yang kompeten yang kiranya dapat bermanfaat bagi Australia.

Pertemuan Mentan Indonesia dengan Menteri Pertanian Norwegia, Mr. Lars Peder Brekk



Dalam pertemuan ini aspek utama yang dibicarakan adalah tentang International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (IT-PGRFA). Pada kesempatan ini Pemerintah Norwegia menyatakan sangat mendukung terhadap keberhasilan penyelenggaraan pertemuan ke-4 Governing Body yang akan dilaksanakan di Indonesia pada bulan Maret 2011.

Menteri Pertanian Norwegia sebagai pemimpin “Global Task Force” berperan aktif mendukung pendanaan “Benefit Sharing Fund” yang sangat bermanfaat bagi petani di negara berkembang yang mengkonsevasi sumberdaya genetic yang mereka miliki sehingga dapat menjamin ketersediaan pangan. Menteri Pertanian Norwegia memimpin Global Task Force untuk penggalangan dana.

Menjelang pertemuan di Bali, sekretariat IT-PGRFA telah menyusun Road Map. Beberapa Road Map tersebut adalah: pertemuan Ministerial Round Table pada bulan Juni 2010 di Roma, Italia, Policy Seminar pada tanggal 15-18 Desember 2009 di Bari, pertemuan Nordic Council of Ministers pada bulan Juni 2010.

Pertemuan Mentan Indonesia dengan Menteri Pertanian New Zealand, Mr. David Carter


Menteri Pertanian New Zealand menjelaskan tentang ide pembentukan “Global Alliance on Agricultural Green House Mitigation Research: An International Partnership” yang merupakan usulan Pemerintah New Zealand.

Ide ini bertujuan, antara lain bekerjasama melakukan penelitian mengurangi emisi pertanian, mendapatkan dukungan sumberdaya keuangan internasional untuk penelitian emisi pertanian, kesamaan pemahaman dan cara mengukur emisi pertanian, mendorong penyebarluasan informasi dan penerapan yang penelitian yang konsisten dan metodologi yang terukur, dll.

Mentan Indonesia menyampaikan kesamaan pandangan dukungan dan sepenuhnya terhadap konsep tersebut mengingat isu tentang pengaruh gas rumah kaca yang ditimbulkan oleh pertanian terus meningkat. Mentan juga menyampaikan bahwa Indonesia sangat concern dengan persoalan perubahan iklim global yang dicerminkan oleh keberhasilan Indonesia dalam menghasilkan Bali Road Map yang merupakan bagian tidak terpisahkan dalam pembahasan persoalan perubahan iklim dunia.

Isu lain yang dibahas adalah persoalan ekspor daging New Zealand ke Indonesia setahun terakhir. Mentan menjelaskan bahwa saat sekarang Undang-Undang tentang sistem kehalalan produk sedang dalam proses pembahasan antara Pemerintah dengan DPR,dan institusi lain yang terkait. Persoalan ini tentunya akan dikomunikasikan dengan baik jika nantinya sudah ada ketetapan aturan yang jelas.

Friday, November 20, 2009

Krisis Pangan Dunia Butuh Penyelesaian Bersama Seluruh Negara



Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Menteri Pertanian Indonesia Bapak Suswono pada pidatonya yang disampaikan pada Pertemuan ke 36 Konferensi FAO di Kantor Pusat FAO di Roma tanggal 19 Nopember 2009 kemarin.

“Tidak mungkin persoalan pangan global dapat diselesaikan melalui penyelesaian individualis masing-masing negara. Oleh karena itu Indonesia sangat mendukung segala bentuk inisiatif untuk membangun kemitraan global yang lebih baik dan lebih kuat” demikian penegasan Mentan Suswono yang saat sekarang sedang menyelesaikan pendidikan S3 nya di IPB.

Mentan ke Roma selain dalam rangka konferensi FAO juga yang utama dalam rangka mendampingi Bapak Wakil Presiden Indonesia yang menyampaikan pidato pada acara pertemuan puncak dunia tentang ketahanan pangan global (World Summit on Food Security) yang berlangsung di FAO tanggal 16 – 18 Nopember 2009.

Selain menekankan perlunya kerjasama global, dalam pernyataannya, Mentan juga menyinggung beberapa hal yang menyangkut keberhasilan Indonesia dalam mengelola pangan utama penduduknya serta menjelaskan tentang partisipasi Indonesia dalam membantu negara lain melalui kerjasama Selatan-Selatan. Mentan juga menginformasikan beberapa target Indonesia terkait ketahanan pangan seperti: swasembada daging dan gula yang diharapkan dapat tercapai dalam periode lima tahun mendatang.

Terkait juga dengan ketahanan pangan dalam negeri, Mentan juga menekankan tentang salah satu prioritas utama program yang akan dilakukannya yaitu diversifikasi pangan dan penurunan tingkat konsumsi beras per penduduk Indonesia yang dinilai terlalu tinggi.

Thursday, November 5, 2009

PERLUNYA KIPRAH EXPERT INDONESIA


Demikian salah satu hasil dari Workshop “Optimalisasi Peran dan Strategi Nasional Indonesia dalam Keanggotaan pada Organisasi Pangan PBB (FAO, IFAD, dan WFP)” yang berlangsung di Deptan, Jakarta, 3 November 2009.

Kiprah SDM Indonesia yang berkualitas di organisasi Internasional seperti FAO, IFAD, dan WFP ini misalnya diharapkan akan memberikan manfaat yang lebih besar tidak saja bagi peran Indonesia di dunia Internasional, tetapi juga bagi kepentingan pembangunan dalam negeri.

Sampai saat ini Indonesia merupakan salah satu negara yang paling sedikit SDM-nya yang bekerja di organisasi Internasional khususnya organisasi di bawah naungan PBB. Sebagai contoh misalnya di FAO dengan berdasarkan kepada skala kontribusi iuran, jumlah penduduk, dan faktor anggota, Indonesia mendapat kesempatan untuk menempatkan SDMnya dalam jumlah antara 4 – 7 orang staf, tetapi pada kenyataannya saat sekarang hanya 1 orang Indonesia saja yang tercatat sebagai staf profesional di FAO ini.

Salah satu faktor yang dinilai menjadi penyebab hal ini selain soal kemampuan bahasa adalah sistem kepegawaian khususnya bagi PNS yang cenderung kurang mendukung kemungkinan PNS dalam kurun waktu yang memadai berkiprah di luar PNS tanpa status PNS nya hilang. Dengan semakin banyaknya SDM berkualitas Indonesia sekarang yang terkadang kemampuannya belum maksimal termanfaatkan di dalam negeri, maka sudah selayaknya persoalan ini menjadi salah satu perhatian bagi pemerintah apalagi di era globalisasi sekarang ini dan saatnya orang Indonesia lebih banyak lagi tampil di forum dunia.

Lokakarya ini menampilkan pembicara utama Mohamad Oemar, Dubes Indonesia untuk Italia dan sekaligus Wakil Tetap Indonesia untuk organisasi FAO, IFAD, WFP yang merupakan organisasi utama dunia di bawah naungan PBB. Dalam paparannya Dubes Oemar menekankan bahwa bantuan organisasi Internasional seperti yang bermarkas di Roma ini hendaknya dilihat tidak saja dari aspek besarnya bantuan tetapi yang lebih penting lagi adalah sejauh mana bantuan yang diberikan memberikan manfaat lebih maksimal bagi Indonesia, oleh karena itu lokakarya ini menjadi sangat penting dalam merumuskan strategi Indonesia ke depan terkait dengan kiprah Indonesia di organisasi Internasional khususnya yang berbasis di Roma.

Selanjutnya Dubes juga mengingatkan bahwa Indonesia ke depan di mata dunia akan dilihat tidak lagi hanya sebagai negara yang membutuhkan bantuan tetapi akan diminta menjadi salah satu negara yang memberikan bantuannya khususnya dalam bidang ketahanan pangan dunia. Dalam konteks ini menurut Dubes Roma SDM Indonesia menjadi sangat penting perannya untuk berkiprah di organisasi pangan dunia ini.

Selain Dubes Roma, lokakarya ini juga menampilkan pembicara dari utusan departemen terkait dengan organisasi pangan dunia seperti Deptan, Dephut, Bappenas, Menkokesra, dan Dr. Memed Gunawan, mantan Sekjen Deptan yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Country Representative FAO untuk negara Lesotho.

Sumber berita: Erizal Sodikin, Atase Pertanian KBRI Roma

Monday, October 26, 2009

Surprise: tidak tahu Indonesia penghasil kakao ke tiga terbesar di dunia




Pameran Eurochocolate 2009 telah berakhir tanggal 25 Oktober 2009 kemarin. Walaupun di hari terakhir, pengunjung tetap membludak seperti layaknya hari lain khususnya di akhir pekan.

Indonesia yang menjadi tamu khusus pada pameran kali ini juga mendapat banyak pengunjung. Indonesia menampilkan berbagai produk terkait dengan kakao dan coklat termasuk juga keindahan seni, budaya, dan makanannya.

Salah satu kesan yang didapat dari pengunjung yang ditemui saat berkunjung ke paviliun Indonesia didapat bahwa sebagian besar pengunjung tidak mengetahui bahwa Indonesia adalah salah satu penghasil kakao terbesar di dunia. Mereka tahunya selama ini bahan baku coklat ini berasal dari daratan amerika latin atau afrika. Setelah dijelaskan bahwa Indonesia bahkan menjadi penghasil kakao terbesar ke tiga di dunia, banyak yang surprise tentang hal ini, sehingga meningkatkan keingintahuan mereka dengan menanyakan banyak hal termasuk meminta brosur yang disediakan di paviliun.

Partisipasi Indonesia sebagai negara tamu utama dalam pameran Eurochocolate 2009 ini akan memberikan informasi yang luas tentang potensi kakao Indonesia mengingat coverage berita dari Eurochocolate yang sangat luas di Eropa khususnya di Italia serta banyaknya jumlah pengunjung selama pameran. Untuk selanjutnya diharapkan akan mendorong keinginan pengguna bahan baku coklat Italia dan Eropa untuk membeli kakao Indonesia.

Yang menarik perhatian pengunjung di stand Indonesia adalah adanya biji kakao segar yang kulitnya dibuka sehingga pengunjung dapat melihat dan meraba isi kakao secara langsung, disamping juga bibit tanaman kakao di dalam botol yang diperbanyak secara kultur jaringan merupakan daya tarik tersendiri.

Sebagai informasi Eurochocolate kali ini berlangsung tanggal 16 sampai tanggal 25 Oktober 2009 dengan memamerkan berbagai macam produk yang terkait coklat, dalam bentuk kreasi seni dan bentuk coklat seperti: coklat batere, bentuk laptop, bentuk penggaris, boneka, dll. Tidak ketinggalan Indonesiapun menjual berbagai produk coklatnya dengan berbagai seni dan kreasi al. gambar berbagai pelaku wayang yang merupakan produk coklat dari Dyarra chocolate’n cookies Jogjakarta. Selain itu dijual juga berbagai jenis coklat dari Monggo, Dulibon, Ceres, dan PT. Bumi Tangerang.

Friday, October 23, 2009

PTPN XII Jajaki Mendirikan Industri Hilir Kakao



Di sela acara Pameran Internasional Eurochocolate 2009 di Perugia yang sedang berlangsung, Direktur Utama PTPN XII Surabaya Bpk. Nurhidayat didampingi oleh Direktur Pemasaran Bpk. Sugeng B. Raharjo dan Anggota Komisaris Bpk. Syukur Iwantoro serta Atase Pertanian KBRI Roma Dr. Erizal Sodikin melakukan kunjungan ke perusahaan coklat Vannucci yang terletak di kota kecil Pantalla 35 km dari kota Perugia.

Kunjungan yang dilakukan tanggal 21 Oktober 2009 ini diterima langsung oleh Mr. Zamporlini pemilik perusahaan. Dalam pertemuan dan diskusi setelah melihat proses pembuatan coklat, Mr. Zamporlini menjelaskan tentang profil perusahaan yang merupakan perusahaan dalam kategori UKM untuk standar Italia. Perusahaan ini menghasilkan 160 berbagai jenis coklat dengan biaya investasi sebesar sekitar 12 juta Euro.

Melihat dan mendapatkan informasi soal ini, PTPN XII yang mendapat amanah untuk menggarap industri hilir kakao, tertarik untuk melakukan penjajakan dan pembicaraan lebih lanjut soal ini. Dalam pandangan Dirut PTPN XII skala perusahaan seperti Vannucci ini relatif tepat untuk dikembangkan di Indonesia mengingat dalam beberapa proses pembuatan coklat masih banyak menggunakan tenaga manusia alias padat karya. Disamping biaya investasi yang relatif masih memungkinkan dijangkau. Adanya industri hilir kakao diharapkan akan menambah daya serap pasar kakao dalam negeri dan juga meningkatkan konsumsi per orang Indonesia terhadap coklat

Pimpinan PTPN XII dalam kunjungannya ke Italia ini juga akan melakukan pembicaraan dengan beberapa pembeli potensial di Napoli tanggal 22 Oktober dan tanggal 23 Oktober akan mengunjungi pameran Salone del’industria del Benessere e dell’Estetica di Milan yang sekaligus ketemu dengan Mr. Vincenso Sandalj, EO perusahaan importir kopi Sandalj Trading Company Trieste.

Saturday, October 10, 2009

Kakao Indonesia Punya Kualitas Tersendiri


Demikian dikatakan oleh Bapak Yuwono A. Putranto, DCM KBRI Roma dalam salah satu pernyataannya di konferensi pers tanggal 9 Oktober Jum’at kemarin yang diadakan oleh panitia penyelenggara Eurochocolate 2009 di Perugia Italia.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa keunggulan yang dipunyai kakao Indonesia adalah titik leleh bubuk coklatnya yang tinggi yang dapat mencapai 33 derajat C.
Selain menjelaskan keunggulan bahan baku coklat dari Indonesia, Pak DCM juga menjelaskan tentang kakao Indonesia sehingga Indonesia memutuskan untuk berpartisipasi dan menjadi Negara Tamu Khusus dalam Eurochocolate ini. Beberapa informasi terkait peranan kakao Indonesia antara lain Indonesia merupakan negara penghasil terbesar ke 3 kakao dunia atau setara sekitar 15 % dari kakao dunia, pentingnya peranan kakao bagi perekonomian Indonesia khususnya bagi petani dan pedesaan, adanya komitmen pemerintah untuk melakukan perbaikan kakao melalui gerakan nasional.

Sebagai informasi, konferensi pers ini diadakan 1 minggu sebelum pelaksanaan pameran Internasional Eurochocolate 2009 yang akan dimulai tanggal 16 Oktober yang akan datang. Dalam konferensi pers yang dipandu oleh Mr. Bruno Fringuelli, Direktur Jendral Eurochoclate ini selain Indonesia berbicara juga utusan pemerintah Italia khususnya propinsi Umbria dan kota Perugia, LSM Fair Trade, pihak sponsor utama produsen mobil Skoda dan 5 pemibaca lain.

Selain aspek kakao dan coklat, Indonesia akan menampilkan juga pertunjukan seni tanggal 18 Oktober 2009 yang akan datang di depan Palazzo di Priori yang terletak di pusat kota Perugia, demikian diinfokan lebih lanjut oleh Pak Yuwono.

Ein schoenes Lied

Noch einen schoenes Lied